Saturday, September 12, 2026

POLITBRIEFid

Ringkasan Politik

Bagaimana Wacana Federalisme Muncul Kembali pada 2026?
Dari persoalan hubungan pusat–daerah menuju isu politik yang semakin terbuka
Tanggal Telaah
12 September 2026
Periode
Januari–September 2026
Jenis Isu
Pusat–Daerah
Keyakinan Telaah
Sedang–Tinggi

Pokok Pembacaan

Wacana federalisme pada 2026 tidak muncul secara tiba-tiba pada bulan Agustus. Jejak diskusinya sudah dapat ditemukan sejak Januari, tetapi pada tahap awal federalisme masih merupakan gagasan pinggiran yang muncul bersama kritik terhadap kemampuan pemerintah pusat menangani persoalan daerah.

Perubahan penting terjadi beberapa bulan kemudian. Persoalan yang awalnya berkaitan dengan penanganan bencana, pemerataan, transfer ke daerah, dan ruang fiskal daerah berkembang menjadi perdebatan mengenai kecenderungan resentralisasi. Pada tahap ini, substansi konfliknya belum mengenai bentuk negara, tetapi mengenai siapa yang menentukan prioritas pembangunan dan siapa yang menguasai sumber daya.

Pada Agustus 2026, persoalan tersebut memperoleh nama politik yang jauh lebih kuat: federalisme. Di Maluku Utara, sejumlah tokoh adat, akademisi, praktisi dan politisi mulai menghubungkan federalisme dengan ketidakadilan pembagian hasil sumber daya alam dan hubungan fiskal pusat–daerah. Dari sinilah isu berubah dari diskusi mengenai tata kelola menjadi wacana politik terbuka.

Catatan penting:
Sampai saat ini belum terdapat bukti terbuka yang cukup untuk menyatakan bahwa pemerintah pusat, Presiden Prabowo, atau satu kelompok tertentu secara terkoordinasi menciptakan wacana federalisme. Yang dapat diamati adalah adanya persoalan material yang nyata, aktor yang mengartikulasikannya, dan proses penguatan wacana melalui media serta pernyataan publik.

Bagaimana Wacana Itu Terbentuk?

Periode Perkembangan Perubahan Wacana Arti Politik
Awal Januari Bencana dan persoalan pembangunan kembali memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan pusat merespons kebutuhan daerah. Persoalan belum berbentuk tuntutan federalisme yang terorganisasi. Yang menguat adalah perasaan bahwa keputusan terlalu bergantung kepada Jakarta. Terbentuk kondisi awal bagi kritik terhadap hubungan pusat–daerah.
20 Januari Sebuah tulisan mengenai gagasan negara federal mencatat bahwa wacana federal kembali menguat, antara lain setelah kritik terhadap penanganan bencana di Sumatra. Kata “federal” mulai muncul sebagai alternatif konseptual terhadap persoalan sentralisasi. Ini merupakan penanda awal, tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa federalisme telah menjadi arus politik besar secara nasional.
Maret Pemotongan Transfer ke Daerah dan semakin banyaknya program nasional yang dijalankan secara atas-ke-bawah mulai diperdebatkan secara terbuka. Pertanyaan bergeser menjadi: apakah Indonesia sedang mengalami resentralisasi? Federalisme memperoleh bahan bakar yang lebih konkret: uang, kewenangan, program pusat, dan ruang fiskal daerah.
Juni–Juli Persoalan hubungan fiskal pusat–daerah memasuki arena hukum melalui pengujian ketentuan UU Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah di Mahkamah Konstitusi. Pemerintah mempertahankan bahwa penyelarasan TKD dengan RPJMN dan RKP bukan dimaksudkan mengurangi otonomi daerah. Ini menunjukkan bahwa perdebatan mengenai batas kewenangan pusat dan daerah sudah menjadi persoalan kelembagaan, bukan sekadar perdebatan media.
18–20 Agustus Wacana federalisme menjadi sangat eksplisit di Maluku Utara. Sultan Ternate, Sultan Tidore, akademisi, praktisi hukum dan sejumlah tokoh daerah masuk dalam percakapan. Federalisme dikaitkan langsung dengan SDA, Dana Bagi Hasil, pembangunan, dan ketidakadilan pusat–daerah. Ini merupakan titik perubahan: dari keluhan terhadap kebijakan menjadi tuntutan politik dengan simbol kuat.
19 Agustus Majelis Adat Indonesia bersama sejumlah tokoh Sumbar-Minang juga menyatakan dukungan terhadap gagasan federal sebagai cara memperkuat keadilan pusat–daerah dan kewenangan lokal. Wacana tidak lagi hanya memiliki konteks Maluku Utara. Terbentuk kemungkinan penularan isu antardaerah: persoalan lokal dapat dipertemukan oleh satu narasi bersama.
Agustus–September Media lokal, akademisi, organisasi kemasyarakatan dan kelompok politik terus memperdebatkan federalisme, federalisme fiskal, otonomi khusus, serta pembagian hasil SDA. Perdebatan mulai menghasilkan pemisahan antara federalisme sebagai bentuk negara dan prinsip federalistik dalam pengelolaan fiskal. Hal ini membuka jalan bagi solusi yang lebih moderat: penguatan desentralisasi, DBH, atau otonomi asimetris tanpa mengubah NKRI.
10 September Pemerintah Provinsi Maluku Utara secara terbuka menegaskan bahwa NKRI telah final dalam dialog yang secara khusus membahas NKRI, federalisme dan masa depan Indonesia. Wacana federalisme telah cukup besar sehingga memerlukan jawaban resmi dan kontra-narasi. Isu telah beranjak dari pinggiran percakapan menuju agenda politik yang harus dikelola.

Transformasi Isu

Keluhan terhadap pusat
↓
Persoalan transfer fiskal dan kewenangan
↓
Perdebatan resentralisasi
↓
Ketidakadilan pengelolaan SDA
↓
Federalisme sebagai bahasa politik
↓
Amplifikasi media dan elite daerah
↓
Respons NKRI dan pencarian jalan tengah

Mengapa Justru Kata “Federalisme” yang Muncul?

1. Federalisme mengubah keluhan teknis menjadi persoalan politik besar

Kalimat seperti “Dana Bagi Hasil terlalu kecil” merupakan tuntutan fiskal. Tetapi ketika keluhan tersebut berubah menjadi “sistem negara harus federal”, tingkat perhatian politiknya melonjak. Pemerintah pusat, media nasional, tokoh politik, dan masyarakat menjadi lebih sulit mengabaikannya.

2. Federalisme menyediakan bahasa bersama bagi daerah yang berbeda

Maluku Utara, Sumatra Barat, Aceh, Papua, Kalimantan atau daerah penghasil sumber daya memiliki persoalan yang berbeda. Tetapi seluruh persoalan tersebut dapat dipertemukan dalam satu pertanyaan: seberapa besar kekuasaan seharusnya berada di daerah?

3. Ia memiliki kekuatan sejarah

Federalisme bukan istilah baru dalam politik Indonesia. Republik Indonesia pernah berbentuk federal dalam periode Republik Indonesia Serikat. Gagasan federal juga kembali muncul pada awal Reformasi. Karena itu, ketika istilah tersebut dipakai sekarang, masyarakat tidak perlu diperkenalkan dengan sebuah konsep yang sepenuhnya baru.

4. Ia dapat digunakan sebagai tuntutan maksimal

Aktor tidak harus benar-benar yakin Indonesia akan berubah menjadi federasi. Dengan mengangkat tuntutan yang sangat besar, ruang negosiasi terhadap tuntutan yang lebih kecil ikut bergeser.

Secara politik, urutannya dapat berbentuk:

Federalisme → tekanan terhadap pusat → pembicaraan ulang hubungan pusat–daerah → perluasan kewenangan → perbaikan DBH/TKD → desentralisasi fiskal atau otonomi asimetris.

Di Mana Posisi Prabowo?

Sampai sumber terbuka yang dapat diperiksa saat ini, tidak terdapat dasar yang cukup untuk menyebut federalisme sebagai gagasan resmi Presiden Prabowo.

Justru pada Taklimat Awal Tahun 6 Januari 2026, Presiden menekankan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kekuatan dan mampu menghadapi berbagai tantangan. Pada 12 Januari, Presiden juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus disertai pemerataan.

Ini menghasilkan situasi yang menarik. Pemerintah pusat berbicara mengenai NKRI dan pemerataan, sedangkan sejumlah aktor daerah kemudian menggunakan federalisme dan keadilan pusat–daerah sebagai bahasa kritik.

Dengan demikian, hubungan Prabowo dengan isu federalisme saat ini lebih tepat dibaca sebagai konteks pemerintahan tempat wacana itu berkembang, bukan sebagai bukti bahwa Prabowo merupakan pengusungnya.

Penilaian Politik Sementara

Hipotesis Penilaian Keyakinan
Wacana lahir murni dari satu operasi politik pusat Belum terdapat bukti terbuka yang memadai. Rendah
Wacana lahir dari ketidakpuasan pusat–daerah yang nyata Didukung oleh perdebatan TKD, resentralisasi, DBH, pengelolaan SDA dan keterbatasan ruang fiskal daerah. Tinggi
Federalisme kemudian dipakai sebagai alat tawar politik Sangat mungkin karena tuntutan federal meningkatkan biaya politik bagi pusat dibandingkan tuntutan fiskal biasa. Sedang–Tinggi
Media dan elite daerah memperbesar wacana Terlihat dari meningkatnya jumlah pernyataan, tulisan, diskusi publik dan respons tokoh selama Agustus–September. Tinggi
Tujuan akhirnya benar-benar mengubah Indonesia menjadi federasi Belum dapat disimpulkan. Sebagian argumen justru bergerak menuju federalisme fiskal, otonomi khusus atau desentralisasi yang lebih kuat. Rendah–Sedang

Simpulan Ringkasan Politik

Federalisme 2026 lebih tepat dibaca sebagai hasil dari akumulasi persoalan hubungan pusat–daerah daripada sebagai gagasan yang muncul tiba-tiba.

Januari memperlihatkan tanda awal bahwa istilah federal mulai kembali digunakan. Maret memperkuat bahan dasarnya melalui perdebatan resentralisasi dan Transfer ke Daerah. Juni–Juli membawa persoalan itu ke arena kelembagaan. Agustus menjadi titik pecah ketika sejumlah elite daerah secara terbuka mulai menyebut federalisme sebagai jawaban atas persoalan fiskal dan sumber daya.

Karena itu, hal yang harus diperhatikan bukan hanya “siapa yang berbicara tentang federalisme”, tetapi juga “masalah apa yang sedang mereka coba negosiasikan melalui kata federalisme”.

Pada tahap sekarang, jawabannya terutama mengarah kepada keadilan fiskal, pengelolaan sumber daya alam, kewenangan daerah, pemerataan pembangunan, dan posisi politik daerah terhadap pemerintah pusat.

Sumber Terbuka Utama

  1. Sekretariat Kabinet RI, 6 Januari 2026 — Taklimat Awal Tahun Presiden mengenai kekuatan NKRI.
  2. Sekretariat Negara RI, 12 Januari 2026 — pernyataan Presiden mengenai pertumbuhan dan pemerataan.
  3. Probo Pribadi S.M., 20 Januari 2026 — tulisan mengenai kembalinya wacana negara federal.
  4. PATTIRO, 6 Maret 2026 — diskusi mengenai pemotongan TKD, program atas-ke-bawah, dan kecenderungan resentralisasi.
  5. Mahkamah Konstitusi RI, 21 Juli 2026 — keterangan Pemerintah mengenai TKD, RPJMN, RKP dan otonomi daerah.
  6. Malut Post, 19–26 Agustus 2026 — perkembangan wacana federalisme di Maluku Utara, federalisme fiskal dan keadilan SDA.
  7. Majelis Adat Indonesia, 19 Agustus 2026 — pernyataan sejumlah tokoh Sumbar-Minang mengenai federalisme dan keadilan pusat–daerah.
  8. Pemerintah Provinsi Maluku Utara, 10 September 2026 — dialog mengenai NKRI, federalisme dan masa depan Indonesia.

No comments:

Post a Comment

MBG dan SPPG: Ujian Tata Kelola Setelah Fase Ekspansi Program

Ringkasan Politik Tanggal: 24 September 2026 Periode Liputan: Perkembangan terakhir Suhu Politik: Waspada Tema: Kapasitas Negara Mengelo...