Monday, September 14, 2026

POLITBRIEFid

EXECUTIVE SUMMARY

Federalisme 2026:
Dari Keluhan Pusat–Daerah Menjadi Instrumen Tawar Politik
Edisi 12 September 2026
Periode Telaah
Jan–Sep 2026
Suhu Politik
Waspada
Tahap Wacana
Menguat
Keyakinan Telaah
Sedang–Tinggi
HALAMAN 1 — GAMBARAN STRATEGIS

Pokok Kesimpulan

Wacana federalisme pada 2026 lebih tepat dibaca sebagai gejala politik dari meningkatnya ketegangan hubungan pusat–daerah daripada sebagai gerakan yang telah memiliki kemampuan nyata untuk mengubah bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jejak pembicaraannya telah muncul sejak Januari, tetapi federalisme baru memperoleh daya politik yang lebih kuat setelah persoalan Transfer ke Daerah, program pusat yang bersifat atas-ke-bawah, pengelolaan sumber daya alam, ruang fiskal pemerintah daerah, dan ketimpangan pembangunan semakin diperdebatkan.

Pada Agustus–September, federalisme berubah dari sebuah gagasan pinggiran menjadi bahasa politik untuk menyampaikan ketidakpuasan daerah. Perkembangannya paling jelas terlihat di Maluku Utara, ketika isu sumber daya alam, Dana Bagi Hasil, kewenangan daerah, dan harga diri daerah mulai dihubungkan secara terbuka dengan federalisme.

Bahaya sekaligus kegunaannya terletak pada hal yang sama: federalisme merupakan tuntutan maksimal. Ia mampu menaikkan tekanan terhadap pemerintah pusat meskipun hasil negosiasi akhirnya tidak harus berupa perubahan bentuk negara.

Apa yang Sebenarnya Sedang Diperebutkan?

Di permukaan, perdebatan berbicara mengenai negara kesatuan atau negara federal. Tetapi lapisan politik di bawahnya jauh lebih konkret. Yang sedang diperebutkan terutama adalah:

Kewenangan Daerah   →   Transfer Fiskal   →   Dana Bagi Hasil
Penguasaan SDA   →   Prioritas Pembangunan   →   Posisi Tawar terhadap Jakarta

Dengan demikian, federalisme dapat berfungsi sebagai alat untuk memperbesar daya tawar. Tuntutan “tambahkan bagian daerah” relatif mudah ditempatkan sebagai perdebatan anggaran biasa. Tetapi ketika tuntutan berubah menjadi “hubungan pusat–daerah harus diubah”, biaya politik bagi pemerintah pusat menjadi jauh lebih besar.

Mengapa Wacana Ini Menjadi Berguna?

Pihak Keuntungan dari Menguatnya Wacana Hasil yang Mungkin Dicari
Elite Daerah Meningkatkan tekanan dan posisi tawar terhadap pemerintah pusat. TKD lebih besar, DBH lebih baik, kewenangan SDA, otonomi dan ruang fiskal yang lebih luas.
Tokoh Lokal dan Adat Meningkatkan kembali relevansi politik dan posisi sebagai representasi kepentingan daerah. Pengakuan, kewenangan lokal, perlindungan kepentingan daerah, dan akses terhadap proses pengambilan keputusan.
Politisi dan Kritikus Pemerintah Memperoleh isu yang mampu menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap tata hubungan pusat–daerah. Tekanan terhadap kebijakan pusat dan pembukaan ruang negosiasi politik baru.
Pemerintah Pusat Secara paradoks dapat menempatkan diri sebagai pihak moderat yang mempertahankan NKRI sekaligus menjanjikan pemerataan. Konsolidasi nasional dan legitimasi untuk menawarkan koreksi desentralisasi tanpa perubahan bentuk negara.
Media dan Pembentuk Opini Federalisme merupakan isu dengan konflik, sejarah, identitas, dan nilai emosional yang tinggi. Perhatian publik, diskusi luas, dan peningkatan pengaruh dalam penentuan agenda.
Kelompok Ekonomi Daerah Desentralisasi yang lebih luas berpotensi memindahkan sebagian kontrol ekonomi dan perizinan dari pusat ke daerah. Akses yang lebih besar terhadap pengelolaan SDA, investasi, perizinan, dan nilai tambah ekonomi.

Posisi Prabowo

Belum terdapat dasar terbuka yang cukup untuk menyimpulkan bahwa federalisme merupakan agenda Presiden Prabowo atau pemerintah pusat. Pernyataan resmi Presiden pada awal Januari justru menegaskan kekuatan NKRI. Pada saat yang hampir bersamaan, Presiden juga menekankan pentingnya pemerataan pembangunan.

Posisi tersebut memungkinkan Prabowo mengambil ruang politik di tengah: mempertahankan negara kesatuan tetapi mengakui bahwa persoalan ketimpangan dan hubungan pusat–daerah membutuhkan koreksi.

Karena itu, membesarnya wacana federalisme tidak selalu merugikan pemerintah. Apabila dikelola dengan baik, keberadaan posisi yang lebih ekstrem justru dapat membuat gagasan seperti penguatan desentralisasi, penyesuaian DBH, otonomi asimetris, dan perluasan ruang fiskal daerah terlihat sebagai jalan tengah yang lebih dapat diterima.


HALAMAN 2 — RISIKO, SKENARIO DAN INDIKATOR

Risiko Politik Utama

Risiko terbesar bukan perubahan Indonesia menjadi federal dalam waktu dekat. Risiko terdekat justru terletak pada perubahan cara masyarakat membaca persoalan pusat–daerah.

Jika persoalan fiskal dan pembangunan berubah menjadi persoalan identitas, loyalitas, atau kesetiaan terhadap NKRI, ruang penyelesaian kebijakan dapat menjadi semakin sempit.

Dengan kata lain, persoalan yang semula berbunyi “apakah pembagian hasil antara pusat dan daerah adil?” dapat berubah menjadi “apakah daerah masih setia kepada NKRI?” Perubahan ini berisiko membuat persoalan ekonomi-politik mengalami sekuritisasi.

Risiko Bagaimana Terjadi Implikasi
Penularan Antardaerah Daerah lain yang memiliki persoalan DBH, SDA atau transfer fiskal mengadopsi bahasa federalisme. Isu lokal berubah menjadi wacana nasional.
Sekuritisasi Kritik fiskal mulai dibaca sebagai persoalan integrasi, separatisme atau keamanan. Dialog kebijakan digantikan pendekatan keamanan.
Polarisasi Narasi Perdebatan disederhanakan menjadi pilihan “NKRI versus federalisme”. Pilihan kebijakan di antara keduanya menjadi kurang terlihat.
Eksploitasi Elite Isu digunakan untuk meningkatkan popularitas, bargaining atau posisi elektoral. Tuntutan masyarakat dapat bercampur dengan kepentingan elite.
Respons Berlebihan Pusat Pemerintah memperlakukan seluruh pembicaraan federalisme sebagai ancaman politik. Keluhan material daerah justru memperoleh legitimasi baru.

Tiga Skenario Politik

Skenario Peluang Implikasi
Federalisme menjadi alat tawar
Isu tetap hidup tetapi diarahkan menuju pembahasan fiskal, DBH dan desentralisasi.
55% Tidak terjadi perubahan bentuk negara. Pusat memberikan atau membahas koreksi tertentu terhadap hubungan fiskal dan kewenangan daerah.
Wacana mereda
Pemerintah berhasil menyerap tuntutan melalui kebijakan atau perhatian politik terhadap daerah.
30% Federalisme tetap menjadi isu pinggiran dan digantikan agenda desentralisasi yang lebih teknis.
Wacana menyebar
Daerah lain mulai menggunakan federalisme sebagai bahasa ketidakpuasan terhadap pusat.
15% Pemerintah menghadapi tekanan politik lebih besar dan perdebatan dapat bergeser ke integrasi nasional.

Angka peluang merupakan penilaian analitis POLITBRIEFid dan bukan hasil perhitungan statistik.

Apa yang Harus Dipantau?

Indikator Jika Terjadi Makna Politik
Daerah baru mulai menggunakan istilah federalisme Wacana meluas dari Maluku Utara dan Sumbar ke daerah penghasil SDA lainnya. Menunjukkan terbentuknya narasi lintas-daerah.
Federalisme masuk ke elite nasional Ketua partai, anggota kabinet atau pimpinan parlemen mulai membahasnya secara substantif. Isu telah berpindah dari pinggiran menuju agenda nasional.
Pemerintah menawarkan koreksi fiskal Muncul pembahasan DBH, TKD, kewenangan SDA atau desentralisasi asimetris. Federalisme kemungkinan berfungsi sebagai alat tawar yang berhasil.
Bahasa keamanan mulai dominan Pembicaraan mengenai federalisme semakin sering disamakan dengan separatisme atau ancaman integrasi. Risiko sekuritisasi dan polarisasi meningkat.
Muncul jejaring antardaerah Tokoh dari beberapa provinsi mulai mengadakan forum, pernyataan atau agenda bersama. Ini merupakan indikator terpenting bahwa wacana telah berubah menjadi mobilisasi politik.

Kesimpulan untuk Pengambil Keputusan

Federalisme saat ini belum merupakan ancaman langsung terhadap bentuk negara, tetapi merupakan indikator bahwa sebagian persoalan pusat–daerah sedang mencari bahasa politik yang lebih keras.

Kesalahan terbesar adalah hanya memperdebatkan apakah federalisme “boleh atau tidak boleh”. Pendekatan itu menjawab simbol tetapi tidak menjawab sumber ketidakpuasan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa istilah federalisme menjadi berguna bagi sejumlah aktor daerah? Jawabannya terutama berada pada pembagian fiskal, pengelolaan SDA, ruang pengambilan keputusan, pembangunan dan persepsi mengenai dominasi pemerintah pusat.

Karena itu, respons yang paling efektif bukan hanya kontra-narasi mengenai NKRI. Pemerintah perlu memisahkan dengan jelas antara perubahan bentuk negara dan keluhan yang sah mengenai desain hubungan pusat–daerah.

Jika keluhan material dapat diselesaikan, daya tarik federalisme dapat melemah. Jika keluhan tersebut diabaikan sementara istilah federalisme terus memperoleh amplifikasi, isu ini berpotensi berkembang dari alat tawar menjadi simbol ketidakpuasan lintas-daerah.

Sumber Terbuka Utama

Sekretariat Kabinet RI, Taklimat Awal Tahun Presiden, 6 Januari 2026; Sekretariat Negara RI, pernyataan Presiden mengenai pemerataan, 12 Januari 2026; tulisan mengenai gagasan negara federal, 20 Januari 2026; PATTIRO, diskusi resentralisasi, 6 Maret 2026; Mahkamah Konstitusi RI, perkara hubungan keuangan pusat–daerah, 21 Juli 2026; pemberitaan dan tulisan publik mengenai federalisme di Maluku Utara, Agustus 2026; serta Pemerintah Provinsi Maluku Utara, dialog NKRI dan federalisme, 10 September 2026.

Tingkat keyakinan keseluruhan: sedang–tinggi. Fakta mengenai perdebatan TKD, pernyataan pemerintah, munculnya diskursus federalisme, dan respons pemerintah daerah dapat diperiksa. Penilaian mengenai kepentingan aktor, fungsi tawar, dan skenario merupakan telaah politik POLITBRIEFid.

No comments:

Post a Comment

MBG dan SPPG: Ujian Tata Kelola Setelah Fase Ekspansi Program

Ringkasan Politik Tanggal: 24 September 2026 Periode Liputan: Perkembangan terakhir Suhu Politik: Waspada Tema: Kapasitas Negara Mengelo...